Header Ads

Kerja Senyap Budi Gunawan Demi Persatuan Nasional



Oleh :  Abdul Rahim

Tahukah anda siapa Budi Gunawan? Mungkin anda pernah mendengarnya di TV atau di media massa. Tapi yang jelas sosok tersebut bukanlah tokoh sembarangan, Budi Gunawan atau yang akrab disapa BG tersebut merupakan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).


Nama Budi Gunawan pertama kali mencuat saat Jokowi menjabat sebagai Presiden pada 2014 menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beberapa bulan setelah menjabat sebagai presiden, Jokowi mengajukan BG sebagai calon kapolri untuk menggantikan Jenderal Sutarman.


Saat itu BG menjadi calon tunggal Kapolri. Namun ada persoalan yang muncul ketika KPK yang waktu itu dipimpin oleh Abraham Samad menetapkan BG sebagai tersangka korupsi. Meski saat itu menyandang status tersangka, Budi lolos dari uji kelayakan di DPR dan terpilih menjadi Kapolri. Meski demikian, Jokowi tidak berani melantik BG sebagai Kapolri.


Hingga akhirnya Mantan Gubernur DKI Jakarta itu memilih Badrodin Haiti sebagai Kapolri, sementara Budi Gunawan sebagai wakilnya. Hingga akhirnya jabatan tersebut di estafetkan ke Jenderal Tito Karnavian.


Lantas apa peran Budi Gunawan saat ini?, Masih ingatkah dengan proses rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo di Gerbong MRT? Jika anda masih ingat maka Budi Gunawan merupakan tokoh kunci dalam proses rekonsiliasi tersebut.


Bahkan kehadiran BG ketika Prabowo bertemu dengan Megawati cukup menonjol. Hal tersebut tentu menunjukkan bahwa BG memiliki posisi yang spesial. Sejumlah tokoh yang paham akan cerita di balik keberhasilan rekonsiliasi tersebut juga mengamini akan pentingnya peran pimpinan BIN tersebut dalam mewujudkan semuanya.


Pramono Anung sampai berkata, bahwa BG bekerja tanpa ada suara, dan apa yang dikerjakan dapat tercapai. Diketahui pula bahwa Budi menjalankan semua peran tersebut atas instruksi dari Presiden Jokowi.


Tentu tak mengherankan bila tidak sedikit kalangan yang mengapresiasi keberhasilan Pria yang kelahiran Surakarta tersebut dalam menjalankan misinya tersebut. Bahkan Aboe Bakar Al – Habsyi selaku politisi PKS juga termasuk salah satu yang mengagumi strategi yang dijalankan oleh BG tersebut.



Media tentu telah merekam betapa kritis dan kerasnya Prabowo dalam kontestasi politik, tentu masih ingat ketika Prabowo meminta kepada para simpatisannya agar menginap di TPS untuk menjaga kotak suara.



Atas dasar itulah, sepertinya agak sulit membayangkan sosok Prabowo akan bersedia bertemu Jokowi bahkan duduk 1 meja dalam suasana makan siang. Mengingat bahwa sepanjang pilpres 2019 rivalitas keduanya cukup sengit.


Dalam pertemuan tersebut, yang terjadi tidak hanya saling bertemu, bahkan Prabowo menampakkan senyum dan tawa selayaknya sahabat bagi Jokowi. 



Setelah itu ketika Prabowo mengunjungi kediaman Megawati, Prabowo tampak begitu bersahabat dengan pimpinan PDI-P tersebut, apalagi setelah menikmati nasi goreng racikan megawati.



Pertemuan antara kedua kubu yang awalnya mustahil, semuanya bisa terwujud berkat peran seorang actor utama bernama Budi Gunawan, yang merupakan sosok yang memiliki otoritas, kekuatan jaringan, kredibilitas, sumber daya dan yang paling penting dipercaya. Baik oleh kubu Jokowi maupun kubu Prabowo.



Melalui berbagai strategi diplomasinya, ia mampu menjangkau jauh ke dalam partai politik. Dengan upayanya tersebut ia mampu membuat kedua capres 2019 tersebut mendeklarasikan diri secara publik, bahwa mulai saat itu juga tidak ada yang namanya cebong dan kampret.



Oleh peran tersebutlah, kita tidak perlu kaget jika dalam beberapa tahun ke depan mantan Kapolda Jambi tersebut akan memegang posisi penting dalam memainkan peran yang lebih besar dalam kabinet pemerintahan yang sedang diramu oleh Presiden Joko Widodo.



Budi Gunawan memiliki kedekatan dengan PDI-P, hal ini dibuktikan bahwa BG pernah menjabat sebagai ajudan Presiden Megawati Soekarno Putri pada masanya. Hal tersebut tentu membuat BG memiliki akses dan peran istimewa di dunia politik.



Kemunculan Budi Gunawan pada momen politik tentu bisa menjadi tahap awal pengenalannya kepada masyarakat Indonesia. Dalam ranah marketing politik dikenal dengan rumus baku: Popularitas, disukai (likeness) dan elektabilitas. Kalau mau terpilih haruslah populer terlebih dahulu dan kemudian mendapatkan simpati publik.(**)


Penulis adalah pengamat sosial politik

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.