Header Ads

Media Massa Wajib Lakukan Verifikasi dan "Cek Fakta"


Mataram, Media NTB - Semua media dan insan jurnalistik wajib  melakukan verifikasi sumber informasi yang benar dan jangan dipublikasikan sebelum melakukan Cek Fakta.



“Perlu ada klarifikasi sebelum kita sajikan informasi akurat dengan data pendukung yang faktual, jangan hanya opini tanpa data yang akurat,” tegas Plt. Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, S.Sos.MH yang mewakili Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah saat membuka  pelatihan Cek Fakta yang diinisiasi oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Provinsi NTB bersama Google News Initiative di Gedung Graha Bhakti Praja, Kantor Guberur NTB di Mataram Minggu (24/11-2019). 



Menurutnya, kegiatan pelatihan Cek Fakta merupakan bagian mewujudkan harmonisasi di NTB. Apalagi saat ini Provinsi NTB sedang menggalakkan program sebagai daerah ramah investasi dan ramah pengunjung.  Informasi yang akurat, terverifikasi dan mencerdaskan adalah jawabannya demi mewujudkan NTB Gemilang, ujarnya.



“Mari kita sama-sama mewujudkan NTB Gemilang dengan menyajikan berita-berita yang benar dan berkualitas kepada masyarakat,” tuturnya.



Mantan irbansus pada Inspektorat NTB itu juga mengingatkan pentingnya pers berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Bahwa  pers selain merupakan lembaga ekonomi yang  menjalankan fungsi bisnis untuk mendapatkan profit, juga menurut Aryadi, media memiliki peran yang jauh lebih penting dan utama adalah sebagai garda terdepan dalam menjaga integritas serta perekat persatuan dan kesatuan nasional.



"Jangan hanya karena mengejar keuntungan ekonomi sesaat, kemudian mengabaikan kode etik jurnalistik dengan menyajikan informasi hoax atau berita sensasional, bahkan sekedar opini tanpa fakta, sehingga menimbulkan kegaduhan ditengah masyarakat", ungkap Gde sapaan akrabnya mengingatkan.



Ia sempat menyebut, beberapa tantangan pelaku media, diantaranya masyarakat (publik) tidak lagi sekedar menjadi penerima informasi tetapi juga kerap bertindak sebagai pembuat dan penyebar informasi.



Tantangan lainnya, kata Aryadi, kemajuan teknologi sekarang ini dibutuhkan kecepatan, kualitas berita yang disajikan.



“Percuma informasi disampaikan banyak dan cepat tetapi tidak berkualitas alias belum terkonfirmasi, malah bisa bikin gaduh dan bahkan bisa menjadi bumerang bagi kemajuan daerah,” kata Aryadi.



Sementara itu, trainer google news initiative, Rony Adolf Buol mengatakan, betapa banyak masyarakat yang membagikan dan menyebarkan berita hoax, palsu, bahkan fitnah. Tidak hanya orang awam bahkan elit pun tidak luput dari kasus yang satu ini. Sebagian dari pelaku penyebaran berita hoax tersebut bukan karena sengaja menyebarkan kepalsuan namun faktornya adalah ketidak mampuan menditeksi dengan baik apakah berita tsb benar ataukah hoax.



"Pelatihan Cek Fakta menjadi sangat penting. Agar masyarakat dapat mengetahui dengan lebih mudah sebuah berita benar atau hoax," ujar pria yang akrab disapa Rony.



Ketua AMSI NTB, TGH Fauzan Zakaria mengungkapkan, pelatihan Cek Fakta penting dilakukan untuk mencegah informasi bohong atau hoaks.Seringkali berita dan informasi hoaks beredar di media sosial, dan harus diluruskan melalui media mainstream termasuk media online.



“Kemajuan teknologi informasi saat ini membuat penyebaran berita bohong atau berita fitnah sangat mudah di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, tugas media online adalah menyaring info itu fakta atau hoaks, kemudian memberikan pencerahan informasi ke masyarakat,” kata TGH Fauzan Zakaria.



Fauzan berharap ke depan pemerintah provinsi NTB maupun seluruh kabupaten / kota bisa bekerjasama dengan AMSI untuk membuat pelatihan dan penguatan kapasitas para pelaku media.



“Kami juga berharap ada kerjasama berkelanjutan pemprov maupun seluruh daerah di NTB dengan media terutama yang tergabung dalam AMSI,” ucap Fauzan Zakaria.(BM)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.