Header Ads

Pasar Tradisional Sape dan Jalan Raya Tidak Diperhatikan, HIMPER Gelar Aksi Unjukrasa


Bima, Media NTB - Himpunan Mahasiswa Dan Pelajar Desa Rai Oi (HIMPER), melakukan aksi unjukrasa di Kantor Camat Sape. Terkait dengan keberadaan Pasar Tradisional Sape, PDAM Sape dan Kondisi Jalan Raya Lintas Sape-Wera yang lama tidak diperhatikan.



Hal ini disampaikan langsung oleh Iksan Jendral Lapangan, "iya, tujuan kami melakukan aksi ujukrasa hari ini karena sudah banyak keluhan ibu-ibu pedagang yang ada di Pasar Tradisional Sape, dengan keberadaan fasilitas yang mereka miliki" katanya saat dikonfirmasi oleh media ini. Rabu (10/06/20).



Lanjut Iksan, bahkan setiap hari para pedagang selalu membayar kepada juru pungut 2000-5000 per orang, namun uang itu dikemanakan sehingga fasilitas Pasar ini tidak mampu diperbaiki selama ini.



"Sementara keberadaan PDAM Sape bukannya memberi kenyamanan buat masyarakat. Malah merusak fasilitas negara, seperti di sepanjang jalan protokol dari desa Sangia menuju Pasar Sape, penuh dengan lubang yang diakibatkan bocornya pipa air. Dan beberapa desa di Kecamatan Sape banyak menggunakan air tersebut dengan membayar iuran Rp. 40.000.00 setiap bulan" jelasnya.



"Adapun tuntutan kami hari ini meminta kepada pihak UPT Pasar Sape untuk memperbaiki fasilitas pasar, dan transparansi atas pungutan terhdap pedagang. Serta meminta kepada UPT PDAM Sape, untuk bertanggung jawab atas kerusakan jalan dibeberapa titik yang diakibatkan oleh bocornya pipa air. Dan transparansi atas pungutan perbulan terhadap masyarakat" bebernya.



Juga meminta kepada pihak muspika Kecamatan Sape, untuk berkordinasi dengan Dinas PU Kabupaten Bima.Terkait pengecoran pinggir badan jalan Sape-Wera, yang hanya dilakukan dibeberapa titik saja.



Apa yang disampaikan oleh Iksan dibenarkan oleh Samsiah pedagang di Pasar Tradisonal Sape."Memang setiap hari juru pungut meminta uang kepada kami sebesar Rp. 2000-5000 per orang. Untuk bayar tempat dan sampah" terangnya.



"Kami juga bingung kenapa hanya uang kami yang diambil, sementara fasilitas untuk tempat dagangan kami selama ini tidak diperhatikan. Bahkan kayu maupun seng ini kami beli sendiri, lalu mana uang kami selama ini yang diambil" tegasnya.



Hingga berita ini dinaikan Camat Sape tidak menjawab saat dikonfirmasi oleh media ini melalaui WhatsApp.(Ucok)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.