PJ Gubernur NTB Terima Audiensi Tim Veteriner Terkait Laporan Investasi Hewan Ternak


Mataram, Media NTB - Penjabat (PJ) Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi menerima audiensi dari tim Veteriner bersama Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Nakeswan) Provinsi NTB terkait laporan investasi ternak hewan dan rencana impor sapi di ruang kerja Gubernur NTB, Jumat (06/10/23).



Miq Gita sapaan akrabnya PJ Gubernur NTB tersebut menekankan bahwa rencana investor untuk mendatangkan hewan ternak dari luar dari luar NTB harus benar-benar dianalisis dan resiko yang ditimbulkan. Hal itu, terkait dengan adanya penyakit menular pada hewan ternak di beberapa daerah di Indonesia.


"Jika analisis dan resikonya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademis, sah-sah saja mau impor sapi untuk keperluan perusahaan dari luar asalkan resikonaya rendah," harap Miq Gita.


Selain itu, Miq Gita juga meminta kepada Dinas Nakeswan untuk terus berinovasi untuk mengembangkan ternak hewan di NTB. Sebab, Karakteristik cara beternak hewan di Lombok berbeda dengan cara ternak di Pulau Sumbawa.


Sementara itu, Kepala Dinas Nakeswan Provinsi NTB, Muhamad Riadi menjelaskan bahwa pihaknya sudah membetuk tim analisis resiko terkait rencana salah satu perusahaan yang ingin mendatangkan sapi dari pulau jawa untuk keperluan perusahaannya. Namun, pulau Jawa merupakan daerah zona merah terkait penyakit LSD pada hewan ternak dan NTB zona hijau.


"Dari analisi dan resiko yang kami temukan adalah resiko tinggi kalau di lalulintas kan dari zona merah ke NTB. Artinya resikonya sangat tinggi," jelasnya.


Dijelaskannya bahwa LSD atau Lumpy Skin Disease adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari keluarga Poxviridae. Penyakit ini ditandai dengan munculnya benjolan pada kulit sapi, terutama pada bagian leher, punggung, dan perut. Selain benjolan, sapi yang terinfeksi LSD juga dapat mengalami demam, kehilangan nafsu makan, lesu, dan mengalami penurunan produksi susu.(nm)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.