Header Ads

Hutan Parado Jangan Mengeluh Bencana Melanda


Oleh : Arisman

Masyarakat Bima (Mbojo) pada umumnya memiliki Falsafah hidup yaitu nilai “Maja Labo Dahu” yang mengandung arti malu jika berbuat kesalahan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma yang ada. Disamping itu, konsepsi Maja Labo Dahu mengandung 4 nilai luhur yaitu: Toho ra ndai sura dou labo dana, Toho ra ndai sura dou marimpa, Renta ba rera kapoda ba ade karawi ba weki, Nggahi rawi pahu; tapi makna dan rujukannya mulai terpupus oleh perubahan zaman dan keegoisan masing-masing, maka tidak bisa kita pungkiri sekarang muncul masalah-masalah baru yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam yang sekarang dialami oleh masyarakat Bima khususnya.



Hutan merupakan tumpuan dan harapan bagi setiap komponen mahkluk hidup yang ada di bumi saat ini, karena dari hutan banyak manfaat yang dapat diambil dan dirasakan  baik yang bersifat benefit cost maupun non benefit cost. Sumberdaya hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman yang ada hampir  di setiap wilayah Indonesia tetap selalu tersedia sebagaimana fungsinya.



Di Kecamatan Parado mempunyai hutan yang cukup hijau dari data tahun 1980-2000 an masih tercukupi, selain itu juga memiliki Bendungan Pelaparado yang sudah secara resmi dan sampai sekarang masih berdiri kokoh. Bendungan Pelaparado diresmikan Menteri PU, tahun 2005. Bendungan dengan ketinggian muka air efektif 20 meter (tertinggi di NTB) dan volume tampungan efektif 35 juta m³, yang direncanakan untuk mengairi lahan irigasi seluas 4.118 Ha ini, kondisinya relative masih baik. Akan tetapi tekanan terhadap kawasan hutan sebagai daerah penyangga tidak baik baik saja. 



Isu hutan dan lingkungan hidup di Kabupaten Bima yang dirasakan saat-saat ini, pada umumnya juga relatif sama dengan isu hutan dan  lingkungan hidup pada kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat pada umumnya, walaupun ada beberapa isu yang sifatnya spesifik dan menonjol. Salah satunya yang sedang terjadi di Kecamatan Parado (pembukaan lahan dengan cara membakar, illegalogging secara besar-besaran) ini pengaruh dari karakteristik geografi dan sosial budaya setempat yang mulai berubah dan hilangnya nilai-nilai toleransi khusus dalam pemanfaatan sumberdaya alam (hutan) yang mulai hilang dan terpinggirkan. Terlihatlah sekarang dari berbagai bencana alam yang terjadi di Kabupaten Bima dari data 2007-2019 terus meningkat dan belum mampu teratasi dengan baik.



Pemerintah kabupaten Bima, harus mampu hadir sebagai penengah dan fasilitator agar segera membuat kebijakan yang sesuai kebutuhan masyarakatnya. Yang dalam pemanfaatan sumberdaya hutannya harus ada nilai-nilia konservasi yang diterapkan, salah satu aspek yang perlu perhatikan  menyangkut kelestarian hutan yang tidak terjaga atau rendahnya produksi hasil hutan kayu/non kayu, sebagian besar kawasan hutan tidak lagi memiliki fungsi perlindungan secara optimal sebagai penyangga (Bendungan Pelaparado) kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan lain-lain. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya sumber air/mata air  yang mulai terkikis tahun 2017-2019 sudah mulai terlihat. Selesai itu terjadinya banjir yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Bima  terlihat pada saat musim hujan karena daya penyerapan air oleh tanah berkurang, banyaknya sedimentasi karena laju pergerakan air cukup deras dan cepat dikarenakan berkurangnya tanaman sebagai penahan.  



Suplai air di sekitar bendungan ini akan menjadi ancaman serius terhadap manfaat keberadaan Bendungan Pelaparado dimasa mendatang, jika tidak diawasi/dilindungi secara intensif. Tampaknya volume air tertampung di bendungan ini sudah mulai berkurang yang ditandai dengan adanya beberapa tempat di daerah genangan/bagian hulu  yang tidak dapat digenangi lagi oleh air sehingga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menanam padi, jagung dan kebutuhan Sandang lainnya.



Hutan sebagai sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable), merupakan aset negara/daerah Kabupaten Bima dan masyarakat mengingat pentingnya peran dan fungsinya antara lain sebagai produksi hasil hutan, fungsi perlindungan tata air, perlindungan plasma nutfah dan lain-lain. Oleh karena itu, pengelolaan hutan perlu dilaksanakan secara hati-hati dan bijaksana dengan mempertimbangkan sumber ekonomi dan kelestariannya secara bersamaan dan keberlanjutannya.



Sejalan dengan peran dan fungsi hutan yang memberi pengaruh pada kehidupan masyarakat Parado cukup banyak yaitu penyangga air di bendungan Pelaparado, ketersediaan suplai oksigen, madu hutan, rempah-rempahan berupa Kemiri dan masih banyak lagi. Maka dari itu  cakupan wilayah yang luas dan berpengaruh pada kehidupan masa kini dan masa mendatang (keberlanjutan) perlu di jaga dan dilestarikan.



Banyaknya permasalahan yang telah diuraikan, ada beberapa solusi yang perlu diupayakan; (a) kegiatan rehabilitasi  hutan dan lahan (penghijauan) 2-3 tahun kedepan dan  untuk masyarakat yang masih dalam penanaman padi, jagung dan lain-lain akan tetap dibina dengan mengunakan sistem penanaman tumpangsari/tanaman agroforestri selama tidak merusak tanaman/pohon; (b) inventarisasi lahan kritis dalam kawasan hutan di wilayah Kecamatan Parado dan sekitarnya; (c) melaksanakan pengawasan dan penertiban kegiatan masyarakat yang berpotensi merusak lingkungan dan bentuk operasi rutin, operasi gabungan, pengamanan secara terpadu dengan pendekatan tata adat istiadat yang berlaku dan pendekatan kepada masyarakat yang dianggap pengaruh (dituakan), melakukan  peningkatan sarana dan prasarana perlindungan; (d) kewajiban penanaman 2 pohon bagi setiap pasangan yang melakukan perkawinan; (f) meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan hutan untuk mengurangi tekanan penduduk terhadap hutan, dan mengintegrasikan program rehabilitasi hutan dengan usaha masyarakat sekitar hutan; (g) melatih dan mendidik para peladang liar untuk mengembangkan produksi hasil hutan non kayu seperti budidaya madu, pembibitan tanaman (bunga-bunga) lokal yang semakin langka dan bernilai ekonomis tinggi; (h) serta bisa dengan pembuatan taman baca yang berwawasan lingkungan dengan bekerjasama dengan semua stakeholder.



Besar harapan saya sebagai generasi muda Kabupaten Bima megajak semua generasi regenerasi dan semua elemen ikut adil dalam memecahkan masalah yang terjadi di daerah, dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan hidup dan hutan.(**)

Arisman Adalah Mahasiswa Kehutanan Program Sarjana Universitas Nusa Bangsa, Bogor

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.